SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KLASIFIKASI DDC
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KLASIFIKASI DDC
OLEH:
DIYAN RIZKI PERDANA
PROGRAM D3 PERPUSTAKAAN FISIP UNIVERSITAS UDAYANA
ABSTRAK:
Apabila
kita pergi ke sebuah perpustakaan, kemudian kita mencari buku yang kita
perlukan pada sebuah sistem katalog komputer yang tersedia, setelah memasukkan
judul buku dan pengarangnya, maka kita akan menemukan kode buku yang kita
inginkan, dengan kode tersebut memudahkan kita mencari dan dapat menemukan buku
yang kita butuhkan dengan cepat. Kode yang muncul setelah pencarian tersebut
adalah nomor klasifikasi buku yang digunakan perpustakaan untuk menyusun
koleksi buku yang ada agar buku-buku yang sejenis dapat berkumpul berdekatan,
misalnya dari berdasarkan bidang ilmunya.
Sistem
pengklasifikasian tersebut akan memudahkan dalam pencarian ataupun pengembalian
buku. Ada beberapa macam sistem pengklasifikasian buku yang digunakan di
berbagai perpustakaan. Namun, sistem yang paling banyak digunakan oleh
perpustakaan-perpustakaan adalah sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification
(DDC). DDC digunakan oleh perpustakaan di lebih dari 130 negara. Hingga saat
ini, DDC telah digunakan lebih dari satu abad. Hal ini tentu tidak terlepas
dari sistem/cara kerja DDC yang dipandang paling memadai dalam mengakomodasi
perkembangan dunia perpustakaan dan perkembangan ilmu pengetahuan secara umum.
Sistem pengklasifikasian buku. Sistem pengklasifikasian perpustakaan bermacam-macam
antaralain, Dewey Decimal Classification (DDC), Universal Decimal
Classification (UDC), serta Library of Congress Classification (LCC) dll. Yang
akan dibahas dalam paper ini adalah sejarah dan perkembangan klasifikasi DDC.
Kata Kunci :
Informasi, Klasifikasi, DDC
Latar Belakang
Perpustakaan
mempunyai format penggolongan bagian dari bidang perpustakaan dan ilmu
pengetahuan informasi. Semua itu berjalan bersamaan dengan perpustakaan
(deskriptif) kataloging dan penggolongan, kadang-kadang perpustakaan
mengelompokkan bersama-sama sebagai jasa teknis. Profesional perpustakaan yang
sedang dalam melibatkan proses kataloging dan menggolongkan bahan-bahan,
bahan-bahan perpustakaan disebut sebagai suatu pendaftar buku-buku atau katalog
pustakawan.
Selain itu, sistem
pengklasifikasian tersebut akan memudahkan dalam pencarian ataupun pengembalian
buku. Ada beberapa macam sistem pengklasifikasian buku yang digunakan di
berbagai perpustakaan. Namun, sistem yang paling banyak digunakan oleh
perpustakaan-perpustakaan adalah sistem klasifikasi Dewey Decimal
Classification (DDC). DDC digunakan oleh perpustakaan di lebih dari 130 negara.
Hingga saat ini, DDC telah digunakan lebih dari satu abad. Hal ini tentu tidak
terlepas dari sistem/cara kerja DDC yang dipandang paling memadai dalam
mengakomodasi perkembangan dunia perpustakaan dan perkembangan ilmu pengetahuan
secara umum. Sistem pengklasifikasian buku.
klasifikasi
Perpustakaan adalah salah satu dari dua perkakas yang digunakan untuk
memudahkan pokok mengakses. Yang lain adalah bahasa indek menurut abjad seperti
Thesaurus dan system Subject. Suatu klasifikasi perpustakaan adalah suatu sistem
dari persandian dalam mengorganisir bahan-bahan perpustakaan, bahan-bahan
perpustakaan itu seperti (buku, serial, audiovisual bahan-bahan pustaka, file
komputer, memetakan, naskah, realita, dan lain-lain). Dan suatu nomor dari
jumlah panggilan untuk informasi sumber daya itu yang serupa ke sistem
klasifikasi menggunakan sistem klasifikasi. Perpustakaan yang menggolongkan
kesatuan yang serupa bersama-sama secara khas diatur berdasarkan struktur brown
secara hirarkis (mengumpamakan sistem yang none-faceted). Klasifikasi berciri
konsisten dari suatu pekerjaan yang terdiri dari dua langkah-langkah. Pertama
tentang dari material dipastikan. Berikutnya, suatu nomor; jumlah panggilan
yang didasarkan dengan pada sistem klasifikasi. Jadi ditugaskan ke pekerjaan yang
menggunakan notasi dari sistem.
Sejarah singkat Melvil Dewey
DDC dibuat oleh
Melvil Dewey berdasarkan kajiannya terhadap puluhan buku, pamphlet dan
kunjungannya ke berbagai perpustakaan. Maka DDC dapat dikatakan sebagai
klasifikasi pengetahuan untuk keperluan menyusun buku di perpustakaan. Jadi,
DDC bukanlah klasifikasi ilmu pengetahuan seperti banyak diduga orang.
DDC ditemukan oleh
Melvil Dewey, seorang pustakawan berkebangsaan Amerika Serikat, yang hidup pada
paruh kedua abad ke-19 hingga awal abad 20. Dengan teliti dan ketertarikannya
akan suatu ejaan yang disederhanakan, ia memendekkan nama pertamanya menjadi
Melvil, sebagai orang dewasa yang muda, dia menghilangkan nama tengahnya untuk
mempersingkat namanya menjadi Dui Dewey menemukan suatu gagasan ilmu
klasifikasinya dengan menamakan sebagai Dewey klasifikasi Sistim desimal ( DDC)
suatu sistem ketika ia berumur 21 tahun dan bekerja sebagai asisten siswa di
perpustakaan dari Amherst Perguruan tinggi. Pekerjaan yang diciptakan tersebut
adalah suatu revolusi di dalam ilmu kepustakaan. Dan ia menjalankan suatu jaman
yang baru tentang dunia kerja kepustakaan. Yang layak dijuluki sebagai Melvil
Dewey dengan sebutan Bapa dari Lingkup kerja kepustakaan yang modern."
lingkup kerja kepustakaan Dewey yang diubah dari suatu lapangan kerja persis
sama benar profesi yang modern. Ia membantu dalam menetapkan Asosiasi
Perpustakaan Amerika ( ALA) pada tahun 1876; ia menjabat sebagai sekretaris
dari tahun 1876-1890 dan menjadi presiden pada tahun 1890-1891. Ia juga menerbitkan
Perpustakaan Jurnal yang diterbitkan. Sebagai tambahan, standard perpustakaan
Dewey yang dipromosikan, dan membentuk suatu perusahaan untuk menjual
persediaan perpustakaan, yang secepatnya menjadi Kantor perusahaan
Perpustakaan.
Seorang pelopor di dalam
dunia pendidikan perpustakaan, Dewey telah menjadi seorang pustakawan yang
berasal dari Columbia Perguruan Tinggi (sekarang Columbia Universitas) di Kota
New York pada tahun1883, dan menciptakan sekolah perpustakaan pertama di dunia
pada tahun 1887. Dan pada tahun 1889, ia menjadi direktur dari suatu
Perpustakaan di New York di Albania, suatu posisi yang ia kerjakan sampai 1906.
cakupan Dewey dari pengetahuan dan pekerjaan sangat luas dan bervariasi. Ia
mempelopori ciptaan dari peluang karier untuk wanita-wanita. Ia dan isteri yang
pertamanya, Annie Dewey, mengembangkan suatu tempat tepatnya di daerah Danau
yang tenang, suatu tempat peristirahatan untuk sosial, pengayaan rohani dan
budaya di Adirondack di daerah Pegunungan. Melvil Dewey meninggal setelah
menderita suatu penyakit pada 26 Desember tahun 1931 pada umur 80. Tujuh dekade
setelah kematiannya, ia masih dikenal sebagai Dewey, terutama untuk
Penggolongan Sistim desimal, paling luas dalam penggolongan atau bentuk
klasifikasi perpustakaan yang digunakan di dunia.
Sejarah Penyusunan DDC
Sebelum Dewey
menemukan sistemnya, sudah ada beberapa sistem pengklasifikasian buku.
Misalnya, Charles A. Cutter membuat sistem klasifikasi berdasarkan topik, dan
Nathaniel Shurtleff melakukan penomoran menggunakan sistem desimal. Inovasi
yang dilakukan oleh Dewey adalah menggabungkan sistem pengklasifikasian
berdasarkan topik dan penomoran dengan sistem desimal. Namun, nomor tidak
mengacu pada rak, melainkan pada bidang ilmu. Keadaan seperti ini mendorong
Dewey untuk menemukan suatu sistem pengklasifikasian buku yang baru.
Klasifikasi Desimal
Dewey (Dewey Decimal Classification(DDC), juga disebut Sistem Desimal Dewey)
adalah sebuah sistem klasifikasi perpustakaan yang diciptakan oleh Melvil Dewey
(1851–1931) pada tahun 1876, dan sejak saat itu telah banyak dimodifikasi dan
dikembangkan dalam duapuluh dua kali revisi yang telah terjadi hingga tahun
2004
Pada tahun 1876
terbitlah sebuah pamphlet yang berjudul A Classification and subject index for
cataloging the books and phamflet of a library. Penerbitan pamphlet tersebut
menandai terbitnya sistem Dewey Decimal Classification, lebih dikenal dengan
singkatan DDC.
Kini DDC menginjak
edisi ke 22 ( terbit pada 2003), merupakan bagan klasifikasi yang banyak
dipakai di dunia. Di Indonesia, DDC menduduki peringkat pertama sebagai bagan
kasifikasi yang paling banyak digunakan, menyusul kemudian Universal Decimal
Classification atau yang sering disebut dengan UDC.
Edisi pertama terbit
pada tahun 1876 setebal 44 halaman, diterbitkan dengan nama pengarang
anonim,berisi kata pendahuluan, bagan untuk 10 kelas utama yang dibagi secara
desimal menjadi 1000 kategori bernomor 000-999, serta indeks subyek menurut
abjad.
Pembagian 10 kelas
utama merupakan perbaikan dari sistem klasifikasi yang di kembangkan oleh
W,T.Harris pada tahun 1870. Harris sendiri mendasarkan bagan klasifikasinya
atas klasifikasi pengetahuan menurut ilmuwan francis bacon tetapi tata
urutannya berbeda. Bacon membagi pengetahuan menjadi 3 kategori dasar yaitu
sejarah,sastra [poesy],dan filsafat . ketiga kategori ini sesuai dengan
pembagian pikiran manusia yaitu memori [ingatan] ,imaginasi ,dan nalar
Dalam bagan
klasifikasi barunya, Dewey memperkenalkan dua ciri baru yaitu lokasi relatif
dan indeks relatif. Sebelum dikembangkan DDC, buku perpustakaan di beri nomor
sesuai dengan lokasi masing-masing di rak. Misalnya XV1-15 artinya buku di rak
XV1dengan nomor urut 15. dengan kata lain penentuan buku di rak menggunakan
lokasi tetap sehingga buku tidak dapat diubah-ubah letaknya. Halangan lokasi
tetap ialah buku dalam subjek sama mungkin letaknya terpencar karena
kedatangannya di perpustakaan tidak sama. Sistem Dewey memberi nomor buku
menurut subjeknya. Dengan demikian buku disusun menurut subjeknya tanpa
memperhatikan di mana buku tersebut diletakannya di rak. Bila buku baru datang
maka buku tersebut dapat disisipkan di antara buku lama selama buku baru
tersebut berkaitan subjeknya dengan buku lain Sistem penempatan semacam ini
yang memungkinkan perubahan letak selama buku tetap berkaitan subjeknya disebut
lokasi relatif. Lokasi ini memungkinkan interkalasi tanpa batas, buku dapat
dipindah-pindahkan tanpa harus mengubah nomor panggil. Dalam indeks relatif,
Dewey menyatukan dalam satu lokasi berbagai subjek yang berkaitan atau sebuah
subjek dibahas dalam beberapa bidang studi.
Perkembangan DDC
1. Edisi Awal
Edisi pertama terbit
pada tahun 1876, selang beberapa 9 tahun yaitu tepatnya tahun 1985 keluarlah
edisi 2 dimana terjadi relokasi, artinya penggeseran sebuah subyek dari sebuah
nomor ke nomor yang lain. Edisi ini merupakan basis pola notasi pada edisi
selanjutnya. Dalam edisi tersebut, Dewey pertama kali menggunakakan prinsip
integritas angka artinya nomor dalam bagan Dewey dianggap sudah mapan walaupun
mungkin terjadi relokasi. Dewey menyadari bahwa gawatnya relokasi dari satu
edisi ke edisi lainnya karena perubahan, lebih-lebih lagi relokasi
mengakibatkan perlunya reklasifikasi, padahal reklasifikasi tidak disenangi
oleh seorang pustakawan. Integritas angka atau stabilitas angka tetap
dipertahankan pada edisi-edisi awal DDC, walaupun perubahan angka tertentu
tidak dapat dihindari. Dewey mengawasi revisi bagannya hinnga edisi ke-13.
2. Edisi ke-15
Pada tahun 1942
diterbitkan edisi ke-14 yang mempertahankan kebijakan sebelumnya. Rinciannya
semakin memperjelas namun terdapat sedikit perubahan dalam struktur dasar.
Perluasan pun tidak seimbang karena masih banyak bidang yang belum
dikembangkan. Pada edisi ke-15 diambil kebijakan yaitu rincian dibeberapa
bidang dipangkas sehingga terdapat keseimbangan dalam subdivisi. Kalau pada
edisi ke-14 terdapat sekitar 31.000 entri maka edisi 15 dipangkas menjadi 4700
entri. Juga disadari bahwa bagan DDC tidak sesuai dengan laju perkembangan ilmu
pengetahuan, khususnya sains dan teknologi. Ini terjadi mungkin karena
kebijakan integritas nomor. Pada edisi ke-15 diputuskan untuk relokasi sejumlah
besar subyek. Indeks juga diperbaiki dan diringkas sedangkan ejaan yang
disederhanakan yang digunakan pada edisi sebelumnya kini ditinggalkan.
Setelah terbitan
edisi ke-15 pada tahun 1951 terbukti bahwa perubahan yang dilakukan dalam edisi
ke-15 dianggap terlalu berat bagi pustakawan, banyak pustakawan yang tetap
menggunakan edisi ke- 14.
3. Edisi ke- 16
hingga 18
Edisi 16 yang telah
terbit pada tahun 1958 memulai tradisi baru dengan kebijakan siklus revisi
tujuh tahunan artinya bagan Dewey akan keluar dalam edisi baru setiap 7 tahun.
Pada edisi 16 diputuskan untuk kembali kepada kebijakan lama dalam
mempertahankan enumerasi terinci sambil mengambil butir inovasi dari edisi 15
seperti ejaan baku, per-istilahan yang mutakhir, serta penyajian tipografi yang
menarik. Pada edisi 17 tidak jauh berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya,
sementara dalam edisi 18 Towa P. Hamakonda memuat terjemahan ringkasan ketiga
dalam bukunya Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey. Penerbitan buku ini
merupakan salah satu usaha untuk mengisi kekurangan buku pegangan yang
sederhana dan ditulis dalam bahasa Indonesia dibidang klasifikasi perpustakaan.
Dengan pertimbangan diatas, buku ini berbeda dari buku aslinya dalam beberapa
hal sebagai berikut :
- Nomor
klas yang dicantumkan pada umumnya tidak lebih daripada satu angka di
belakang titik desimal.
- Bagian
pendahuluan dari edisi aslinya disusun kembali dengan sistematika yang
agak berlainan.
- Beberapa
bagian lain dari buku aslinya tidak dicantumkan dalam buku ini.
- Beberapa
ciri khas dari buku aslinya seperti contered heading, inclusion notes,
instruction notes tetap dipertahankan.
- Dibahas
empat dari tujuh tabel pembantu yang terdapat dalam buku aslinya.
Keputusan bersama
Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI no. 159 tahun 1987
tentang pembakuan adaptasi dan perluasan Dewey Decimal Classification (DDC)
seksi islam. Dengan adanya keputusan bersama tersebut, maka diterbitkan buku
Daftar Tajuk Subjek Islam dan sistem klasifikasi Islam Adaptasi dan Perluasan
DDC Seksi Islam penyunting Drs H. Muh. Khailani Eryono. Menurut peraturan
Menteri/keputusan bersama dalam pasal 3 tujuan adaptasi dan perluasan DDC seksi
islam, yaitu :
a) Untuk mengatasi
kelemahan dibidang klasifikasi islam dalam rangka memasuki kebutuhan bangsa
Indonesia yang mayoritas bragama islam.
b) Untuk
menghilangkan bermacam-macam sistem klasifikasi islam yang digunakan oleh
perpustakaan-perpustakaan di Indonesia.
4. Edisi ke-19
Pada edisi 19 ini
tetap berpegang pada kebijakan edisi-edisi yang lalu. Editor DDC tetap
mempertahnkan prinsip integritas nomor dalam batas-batas masih masuk akal.
Dalam DDC edisi 19 versi Indonesia sebagai edisi adaptasi ini telah terjadi
hal-hal sebagai berikut
- Telah
diadakan koeksi secara menyeluruh terhadap salah cetak dan kesalahan
susunan terutama dalam indeks relatif.
- Untuk
lebih mudah dimengerti bagaimana menggunakan sistem klasifikasi ini,
terutama pada bab pendahuluan dan khususnya lagi bagian ke-2
- Bagan
dan notasi untuk agama islam telah mengalami perubahan total untuk
menyesuaikan dengan hasil keputusan bersma Menteri Agama dan Menteri
Pendidikan da Kebudayaan no. 159 tahun 1987 yang diterbitkan dengan judul
”Adaptasi Dan Perluasan Dewey Decial Classification (DDC) Seksi Islam”
- Selain
kesalahan –kesalahan cetak dan susunan dalam indeks relatif, pada edisi
yang lalu ada cukup banyak tajuk dari tabel dan bagan yang belum dalam
indeks.
4. Edisi ke-20
Edisi 20 terbit pada
tahun 1989 dengan beberapa perubahan. Warna edisi menjadi coklat muda dan
dibagi menjadi 4 jilid karena edisi sebelumnya (terutama pada bagan
klasifikasi) dianggap terlalu repot. Jilid 1 merupakan tabel subdivisi standar,
jilid 2 bagan dari 000-500, jilid 3 bagan 600-900, dan jilid 4 merupakan
indeks.
Walaupun tetap
merupakan dalam tahap mempertahankan prinsip integritas nomor, dalam edisi ini,
prinsip tersebut sedikit dilanggar. Terjadi relokasi, misalnya komputer kini
menepati 001, yang semula merupakan bagan dari elektronika.
5. Edisi ke-21 dan
ke-22
DDC terus
disempurnakan dengan memasukkan subjek-subjek yang belum tercakup selaras
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan dalam edisi 21
yang diterbitkan pada 1996, manual DDC mencapai tebal lebih dari 4.000 halaman.
DDC memungkinkan penambahan subjek baru karena DDC menggunakan system decimal.
Dengan system ini, DDC dapat mengakomodaskan perkembangan pengetahuan sejak
masa Dewey hingga saat ini.
Saat ini telah terbit
edisi 22 tahun 2003 terdiri atas 4 jilid : Introduction, Schedule 000-599,
Schedule 600-999 dan Index Relatif, setebal lebih dari 3.000 halaman.
Berikut ini adalah
sepuluh kelas utama dari DDC:
000 Karya umum
100 Filsafat
200 Agama
300 Ilmu sosial
400 Bahasa
500 Ilmu pengetahuan murni
600 Ilmu pengetahuan terapan/teknologi
700 Seni, olah raga
800 Kesusastraan
900 Sejarah, geografi
Kesimpulan.
Sebelum Dewey
menemukan sistemnya, sudah ada beberapa sistem pengklasifikasian buku.
Misalnya, Charles A. Cutter membuat sistem klasifikasi berdasarkan topik, dan
Nathaniel Shurtleff melakukan penomoran menggunakan sistem decimal.
DDC dibuat oleh
Melvil Dewey pada tahun 1876 berrdasarkan kajiannya terhadap puluhan buku,
pamphlet dan kunjungannya ke berbagai perpustakaan. dan sejak saat itu telah banyak
dimodifikasi dan dikembangkan dalam duapuluh dua kali revisi yang telah terjadi
hingga tahun 2004.
Edisi pertama terbit
pada tahun 1876 setebal 44 halaman, diterbitkan dengan nama pengarang
anonim,berisi kata pendahuluan, bagan untuk 10 kelas utama yang dibagi secara
desimal menjadi 1000 kategori bernomor 000-999, serta indeks subyek menurut
abjad.
Kini DDC menginjak
edisi ke 22 ( terbit pada 2003), terdiri atas 4 jilid : Introduction, Schedule
000-599, Schedule 600-999 dan Index Relatif, setebal lebih dari 3.000 halaman.
DDC merupakan bagan
klasifikasi yang banyak dipakai di dunia. Di Indonesia, DDC menduduki peringkat
pertama sebagai bagan kasifikasi yang paling banyak digunakan, menyusul
kemudian Universal Decimal Classification atau yang sering disebut dengan UDC.
Daftar Pustaka
prisma, d. (2012,
november 9). wordpress. Retrieved april 4, 2018, from Klasifikasi Dewey
Decimal Classification: https://donyprisma.wordpress.com/2012/11/19/klasifikasi-dewey-decimal-classification-ddc/
Eryono, Muhammad Khailani. Dafatr Tajuk Subjek Islam dan
Sistem Klasifikasi Islam : Adaptasi dan Perluasan DDC Seksi Islam. Jakarta :
Puslitbang Lektur Agama Badan Litbang Agama DEPAG, 1999.
Hamakonda, Towa. P. Pengantar Klasifikasi Persepuluhan
Dewey. Jakarta : BPK. Gunung Mulia, 2007.
Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta :
Gramedia Pustaka Umum, 1991.
Komentar
Posting Komentar